Bandingkan
Cinta Anda Dengan Cinta-Nya!
Publikasi:
18/04/2002 09:27 WIB (eramuslim)
Cinta adalah memberi, dengan segala daya
dan keterbatasannya seorang pecinta akan memberikan apapun yang sekiranya bakal
membuat yang dicintainya senang. Bukan balasan cinta yang diharapkan bagi
seorang pecinta sejati, meski itu menjadi sesuatu yang melegakannya. Bagi
pecinta sejati, senyum dan kebahagiaan yang dicintainya itulah yang menjadi
tujuannya.
Cinta adalah menceriakan, seperti
bunga-bunga indah di taman yang membawa kenyamanan bagi yang memandangnya.
Seperti rerumputan hijau di padang luas yang kehadirannya bagai kesegaran yang
menghampar. Seperti taburan pasir di pantai yang menghantarkan kehangatan
seiring tiupan angin yang menawarkan kesejukkan. Dan seperti keelokan seluruh
alam yang menghadirkan kekaguman terhadapnya.
Cinta adalah berkorban, bagai lilin yang
setia menerangi dengan setitik nyalanya meski tubuhnya habis terbakar. Hingga
titik terakhirnya, ia pun masih berusaha menerangi manusia dari kegelapan.
Bagai sang Mentari, meski terkadang dikeluhkan karena sengatannya, namun
senantiasa mengunjungi alam dan segenap makhluk dengan sinarannya. Seperti
Bandung Bondowoso yang tak tanggung-tanggung membangunkan seluruh jin dari
tidurnya dan menegakkan seribu candi untuk Lorojonggrang seorang. Sakuriang tak
kalah dahsyatnya, diukirnya tanah menjadi sebuah telaga dengan perahu yang
megah dalam semalam demi Dayang Sumbi terkasih yang ternyata ibu sendiri.
Tajmahal yang indah di India, di setiap jengkal marmer bangunannya terpahat
nama kekasih buah hati sang raja juga terbangun karena cinta. Bisa jadi, semua
kisah besar dunia, berawal dari cinta.
Cinta adalah kaki-kaki yang melangkah
membangun samudera kebaikan. Cinta adalah tangan-tangan yang merajut hamparan
permadani kasih sayang. Cinta adalah hati yang selalu berharap dan mewujudkan
dunia dan kehidupan yang lebih baik. Cinta selalu berkembang, ia seperti udara
yang mengisi ruang kosong. Cinta juga seperti air yang mengalir ke dataran yang
lebih rendah.
Tapi ada satu yang bisa kita sepakati
bersama tentang cinta. Bahwa cinta, akan membawa sesuatu menjadi lebih baik,
membawa kita untuk berbuat lebih sempurna. Mengajarkan pada kita betapa, besar
kekuatan yang dihasilkannya. Cinta membuat dunia yang penat dan bising ini
terasa indah, paling tidak bisa kita nikmati dengan cinta. Cinta mengajarkan
pada kita, bagaimana caranya harus berlaku jujur dan berkorban, berjuang dan
menerima, memberi dan mempertahankan.
Tentang Cinta itu sendiri, Rasulullah dalam
sabdanya menegaskan bahwa tidak beriman seseorang sebelum Allah dan Rasul-Nya
lebih dicintai daripada selain keduanya. Al Ghazali berkata: "Cinta adalah inti keberagamaan. Ia adalah
awal dan juga akhir dari perjalanan kita. Kalaupun ada maqam yang harus
dilewati seorang sufi sebelum cinta, maqam itu hanyalah pengantar ke arah cinta
dan bila ada maqam-maqam sesudah cinta, maqam itu hanyalah akibat dari cinta
saja."
Disatu sisi Allah Sang Pencinta sejati
menegaskan, jika manusia-manusia tak lagi menginginkan cinta-Nya, kelak akan
didatangkan-Nya suatu kaum yang Dia mencintainya dan mereka mencintai-Nya (QS. Al Maidah:54). Maka, berangkat dari
rasa saling mencintai yang demikian itu, bandingkanlah cinta yang sudah kita
berikan kepada Allah dengan cinta Dia kepada kita dan semua makhluk-Nya.
Wujud cinta-Nya hingga saat ini senantiasa
tercurah kepada kita, Dia melayani seluruh keperluan kita seakan-akan Dia tidak
mempunyai hamba selain kita, seakan-akan tidak ada lagi hamba yang diurus
kecuali kita. Tuhan melayani kita seakan-akan kitalah satu-satunya hamba-Nya.
Sementara kita menyembah-Nya seakan-akan ada tuhan selain Dia.
Apakah balasan yang kita berikan sebagai
imbalan dari Cinta yang Dia berikan? Kita membantah Allah seakan-akan ada Tuhan
lain yang kepada-Nya kita bisa melarikan diri. Sehingga kalau kita
"dipecat" menjadi makhluk-Nya, kita bisa pindah kepada Tuhan yang
lain.
Tahukah, jika saja Dia memperhitungkan
cinta-Nya dengan cinta yang kita berikan untuk kemudian menjadi pertimbangan
bagi-Nya akan siapa-siapa yang tetap bersama-Nya di surga kelak, tentu semua
kita akan masuk neraka. Jika Dia membalas kita dengan balasan yang setimpal,
celakalah kita. Bila Allah membalas amal kita dengan keadilan-Nya, kita semua
akan celaka. Jadi, sekali lagi bandingkan cinta kita dengan cinta-Nya. Wallahu a'lam bishshowaab.
(Bayu Gautama. Thanks to Herry Nurdi akan artikel
"Belajar Mencinta"nya)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar